Monday, June 20, 2011

Suporter Sebagai Pemegang Saham Klub

05 June 2011 | 00:00:00 - Catatan Kecil


Panji Kartiko (MEDIASEPAKBOLA.com)
Tak terbantahkan bila ada statement yang menyatakan bahwa Suporter merupakan salah satu elemen yang sangat penting dalam suatu gelaran sepakbola. Bahkan ada anekdot yang mengatakan bahwa tanpa hadirnya supporter di suatu pertandingan sepakbola, dapat diibaratkan suatu masakan tanpa bumbu garam dan penyedap lainnya, atau bagaikan suatu konser music band tanpa penonton fans setianya. Tanpa kehadiran supporter, diyakini spirit perjuangan yang biasanya muncul dan meledak-ledak dari pemain tidak akan muncul, karena suatu pertandingan tanpa penonton pressurenya tak akan lebih dari sekedar latihan biasa saja.

Dari sisi bisnis dan komersialisasi tentunya klub yang didukung oleh supporter yang militan, setia dan tertib akan sangat diburu oleh para media cetak, dan elektronik untuk selalu  menampilkan berita terkini baik dari preview dan laga pertandingan sampai dengan gosip terkini seputar klub dan pemainnya. Sponsor pendukung akan lebih mudah didapat oleh klub bila mereka memiliki basis massa supporter yang selalu siap membeli tiket dan memenuhi setiap pertandingan klub.

Tapi sayang fungsi supporter di Indonesia sampai dengan saat ini hanya sekedar pajangan belaka dan sekelompok massa yang hanya dibutuhkan untuk membeli tiket untuk sekedar datang ke stadion untuk memberikan spirit kepada klub dan bila perlu melakukan terror kepada pemain lawan.

Suporter pada era Industrialisasi Sepakbola yang marak saat ini, sudah wajib berpikir untuk tidak hanya berdiri di tataran kulit luar suatu klub saja, tetapi harus diberikan porsi sebagai bagian penting dalam suatu klub.

Setelah era nikmat dana APBD berakhir, tentunya bukan saatnya lagi para pengurus klub untuk bermalas-malasan menyandarkan hidupnya dari putaran uang rakyat berupa APBD yang ” dibungkus” dalam dana hibah olahraga daerah.


Suporter sebagai bagian penyelamat klub

Mungkin kita pernah mendapatkan informasi betapa militannya supporter Aremania, Pasoepati, Semarang (Panser & Snex), Viking, Bonek dalam usahanya menggalang dana bagi klubnya yang sedang kesulitan dana.

Mungkin kita perlu sejenak flash back dan belajar pada langkah Manchester United pada sekitar  awal tahun 90-an, saat memulai langkah di bursa saham publik dan menjadikan dirinya sebagai Public Limited Companies (PLC) yaitu bentuk perusahaan yang terdaftar resmi di bursa saham (Bursa saham London). Saat itu setiap orang atau lembaga keuangan dapat membeli saham MU, serta harga saham MU yang sangat di pengaruhi kinerja dilapangan, harga saham MU bisa melonjak tinggi ketika prestasi klub gemilang dan akan merosot saat terjadi kepindahan pemain bintangnya dan menurunnya prestasi klub.

Cobaan bagi supporter terjadi saat tahun 1998 dimana konglomerat bisnis dari Australia raja media Rupert Murdoch datang dan ingin menguasai klub MU. Saat itu supporter langsung merapatkan barisan dan berkonsolidasi dalam "persatuan/ perkumpulan komunitas" dengan nama "Shareholders United Againts Murdoch"  dan hal tersebut didukung dengan adanya Monopolies and Mergers Commisions (british government), suatu badan/ lembaga di Inggris yang menyelidiki dan mengawasi persaingan Usaha (Indonesia = KPPU).

Arsenal bahkan pada agustus 2010 mengeluarkan langkah yang lebih bijak yaitu menjual saham kepada suporter  yang dikenal dengan nama “the gooners” dengan jumlah kecil untuk membantu melawan upaya akuisisi yang dilakukan pebisnis Amerika dan Rusia yang saat ini menguasai saham mayoritas di klub. Arsenal melepas selembar saham buat suporternya dengan harga sebesar 95 pound sterling (Rp 1,4 juta), seperseratus dari nilai sebenarnya, 9,500 pound sterling. 

Pembeli saham akan mengikuti pemilihan suara untuk memperebutkan sebuah kursi untuk bisa hadir dalam pertemuan umum. Setiap supporter  yang membeli 100 lembar saham statusnya sebagai suporter akan beralih untuk sebagai shareholders/ pemegang saham yang mendapatkan hak memilih penuh.

Suporter sepakbola di Indonesia kini sebaiknya harus berani melangkah pada tahapan dimana “club own by supporter” dimana supporter tidak hanya berperan hooligan “tukang sorak” belaka tetapi mulai masuk ke tahapan supporter sebagai pemegang saham klub.

Pemegang saham (shareholder / stockholder), adalah seseorang atau badan hukum yang secara sah memiliki satu atau lebih saham pada perusahaan. Para pemegang saham adalah pemilik dari perusahaan tersebut. Pemegang saham diberikan hak khusus tergantung dari jenis saham, termasuk hak untuk memberikan suara (biasanya satu suara per saham yang dimiliki) dalam hal seperti pemilihan  direktur, hak untuk pembagian dari pendapatan perusahaan, hak untuk membeli saham baru yang dikeluarkan oleh perusahaan, dan hak terhadap aset perusahaan pada saat likuidasi perusahaan.


Penjualan saham klub di bursa saham

Klub sebagai perusahaan yang terdaftar di bursa saham terbuka, sangat terbuka peluangnya digunakan sebagai alat bisnis “mesin uang” belaka bagi para milyuner yang bermain di pasar modal. Klub dengan massa loyalis supporter yang besar dan tersebar di berbagai penjuru kota tentunya lebih cepat “diendus baunya” karena merupakan “masakan lezat” bagi para pemain saham dengan ciri kapitalis.

Contoh yang nyata adalah bagaimana klub dengan reputasi dunia sekelas MU yang dijadikan “mainan bisnis” bagi kapitalis USA yang bernama Malcolm Glazer.  Gerak cepat sang pemodal klub tentunya karena  ada aroma keuntungan besar disana. Tentunya sang pemilik klub yang hanya berniat cari untung dari bisnis “perusahaan” yang bergerak di bidang sepakbola tidak harus sebagai supporter, simpatisan atau bahkan pernah nonton di stadion sekalipun. Dengan menguasai saham lebih sebesar 51% sang pemodal dapat dikatakan sebagai pemegang saham pengendali perusahaan. Dia tentunya akan sangat bernafsu menggerakkan ekonomi bisnisnya pada klub dengan menaikkan harga tiket, harga merchandise, jadwal tour ke berbagai Negara sampai dengan penjualan pemain bintang yang dianggap dapat mengucurkan aliran kas bagi perusahaan.

Risiko terbesar bagi klub yang menjual saham pada bursa saham terbuka adalah, seperti contoh diatas yaitu hilangnya idealisme perjuangan klub, rasa memiliki layaknya seorang supporter loyal kepada klub dapat dikatakan nyaris hilang atau hanya sekedar pajangan belaka. Klub digerakkan selayaknya perusahaan bisnis biasa yang mengacuhkan fanatisme supporter, loyalitas dan spirit klub terhadap suporternya.

Klub sebagai perusahaan juga dapat dipakai sebagai ajang “money laundering” (tindak pidana pencucian uang) bagi kaum borjuis, klub hanya sebagai mainan dan gengsi semata dari para raja minyak, dan bahkan dapat dijadikan sebagai alat pencarian dana segar melalui penjualan obligasi/ surat hutang pada investor. Disini klub hanya dijadikan sarana budak bisnis sang pemodal dan supporter hanya dijadikan korban alat pengeruk uang dengan label “fanatisme/ loyalitas semu”.

Pada tahap ini keinginan supporter maju sebagai salah satu pemegang saham klub meskipun diberikan tentunya tidak akan kuat melawan arus deras uang para taipan/ konglomerat pasar modal.


Penjualan saham klub pada kalangan terbatas

Tentunya  ini sangat berbeda dengan fase diatas yang membuka lebar akses kepemilikan saham kepada para adventurer saham di bursa. Pada fase ini saham klub hanya dijual kepada pihak-pihak terbatas yang dianggap sesuai dengan idealisme, visi dan misi klub pada masa mendatang. Pemegang saham tidak menggunakan klub layaknya tunggangan bisnis dia semata, tetapi lebih pada rasa kecintaan pada klubnya.

Contohnya adalah klub Arsenal yang memberikan porsi saham tertentu pada suporternya untuk berperan sebagai pemegang saham yang memiliki akses suara yang akan menentukan masa depan klubnya. Suporter tidak hanya sapi perahan saja dan tukang sorak di stadion, tetapi supporter sebagai pemegang saham berhak menentukan komposisi manajemen, arah kebijakan klub serta action plan klub sebagai perusahaan.

Suporter dapat menjadikan klub sebagai identitas bisnis mereka mereka, kebanggaan dan harga diri tidak dapat dikalahkan hanya demi kepentingan uang. Klub di kelola oleh manajemen yang punya hati dan kecintaan pada klub dan profesionalisme mereka pada klub bukan hanya sekedar dinilai nilai kucuran uang semata.

Naik turunnya nilai suatu saham bukan digerakkan oleh sentimen bursa saham atau bahkan tidak dapat “saham gorengan” tidak akan pernah berlaku. Nilai saham mungkin tidak akan pernah turun karena pemilik saham adalah supporter yang loyalitasnya tidak hanya dinilai dari seberapa besar klub sebagai perusahaan dapat menghasilkan pembagian deviden kepada mereka, tetapi lebih dari itu yaitu passion kebanggaan sebagai bagian dari klub yang menjadi pujaannya dan bagaimana klub tetap survive dan berprestasi sepanjang masa.


Arah kebijakan di Indonesia

Setelah mengupas beberapa potensi supporter sebagai pemegang saham pengendali, tentunya klub di Indonesia dapat mulai menentukan arah yang akan dipilih setelah dana APBD diharamkan sebagai “bensin” penggerak roda klub.
Untuk membangun pondasi awal arah klub sebagai perusahaan, sebaiknya kita menentukan yaitu apakah klub ini dibentuk hanya sebagai “mesin bisnis” saja yang hanya memikirkan aspek ekonomis sang pemodal atau klub tetap dipertahankan simbol perjuangan, menjaga spirit awal pendirian klub saat dibentuk, yaitu sebagai ajang identitas kebanggaan suatu kota, sportifitas supporter dan nilai historisnya.

Memang godaan materi sangat terasa menyilaukan bagi manajemen setelah tahu dan menganalisa bahwa klub yang dikelolanya ternyata dapat menghasilkan keuntungan bisnis yang berlipat setiap tahunnya sehingga kadang lupa memaknai kalimat bijak   yang mengatakan “ what a money can’t buy”, bahwa kadang uang dapat membeli semuanya, bahkan kehormatan dan passion suatu klub kadang bisa tergadaikan oleh itu. Apakah dengan gepokan materi kita sanggup meninggalkan history dan kenangan perjuangan supporter yang sangat loyal mendampingi klub?

Mungkin tagline bahwa “bukan klub biasa” dapat dikedepankan di Indonesia agar dapat meminimalkan peluang risiko pembunuhan karakter dan idealisme klub hanya karena godaan uang semata. Klub meskipun berbentuk sebagai perusahaan tetapi tetap mengedepankan porsi pemilikan saham terbesar yaitu minimal > 51% khusus ditawarkan secara eksklusif dan opsi pertama kepada kelompok suporternya, sebelum dijual kepada pemodal yang berminat.

Klub dikendalikan dengan prinsip kebersamaan antar supporter dan klubnya, yaitu bagaimana klub tetap survive optimalisasi arus kas dana klub sehingga prinsip efisiensi dana sangat terasa sesuai dengan potensi dan arah klub.
Klub tidak diperkenankan menghamburkan dana perusahaan tanpa memperdulikan kemampuan dan tingkat kesehatan keuangan perusahaan. Hal tersebut tentunya harus dilengkapi dengan prinsip keterbukaan laporan keuangan, independensi, akuntablitas yang jelas di manajemen dan pemegang saham dan prinsip “fairness” untuk meminimalkan conflict of interest antara kebijakan dan strategi sepihak klub. 

Dengan profesionalisme klub yang selalu dijaga koridornya, tentunya sponsor akan lebih mudah digaet, karena pihak sponsor tentunya ingin reputasi perusahaan mereka dapat tetap terjaga baik dengan menjadi pendukung sponsor klub tersebut.  Dengan prinsip transparansi informasi public tentunya jalur informasi yang terputus antara media dengan klub tidak akan terjadi lagi.

Tiket terusan akan menjadi motor penggerak klub selain dana abadi penjualan saham, ditambah dana sponsor utama dan pendukung, hak siar tv, kontrak jangka panjang bagi pemain junior, pembatasan gaji pemain, optimalisasi hasil penjualan merchandise resmi dan aksi marketing lain oleh klub, tentunya momok ketergantungan akan dana APBD akan terkikis secara perlahan. Dan jangan lupa untuk menghapus peluang adanya uang “under table” antara pelatih, manajer dan agen pemain, pemain junior akan menjadi asset utama masa depan klub dan tentunya tiket gratisan bagi para birokrat pemerintah akan hilang secara otomatis.

Lalu pertanyaanya, siapkah Suporter menerima tantangan & peluang untuk menjadi pemegang saham klub?


Panji Kartiko

0 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More